Pernah mendengar mitos tentang ular putih.
Si pembawa keberuntungan, juga nasib sial.
Jika bertemu ular ini, hati-hati yah simak kisah berikut ini agar lebih mengerti.
Rumah kami berada di pedesaan.
Di rumah kami menyimpan sebuah tempat penyimpanan beras yang sudah berusia puluhan tahun lamanya.
Kadang pas nenek lagi sibuk membersihkan sayuran, aku disuruh untuk menampi beras.
Saat menggali beras dan dikeluarkan, aku dikejutkan dengan sesuatu yang berlalu dengan cepat.
5 Fakta dan Foto Seksi Widuri Agesty, Korban Katalog Hotel Alexis, Nomor 3 Pertegas Pekerjaannya
Ternyata sesuatu itu adalah ular putih kecil yang keluar dari tempat penyimpanan beras.
Aku kaget setengah mati sampai gelas untuk mengambil berasnya terjatuh.
Nenek yang mendengar teriakanku langsung menghampiriku.
Bukannya menanyakan keadaanku tapi malah melarangku untuk memukul ular itu.
Nah lho! Nyinyir Pernikahan Kahiyang Ayu, Netter Ungkit Kembali Kelakuan Anak Fadli Zon
Nenek melihat ular putih itu seolah-olah seperti melihat harta karun.
Dan berkata: “wah, ular keberuntungan akhirnya datang ke rumah!” aku yang kebingungan bertanya pada nenek:
“itu kan cuma ular biasa, bagaimana nenek tahu kalau itu ular keberuntungan?”
Wajah nenek langsung berubah serius dan berkata bahwa ini adalah hikmat nenek moyang yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Kalau anak-anak yang menemukan ular ini di dalam tempat penyimpanan beras artinya adalah hal baik, akan mendapat keberuntungan yang melimpah.
Tapi, kalau dibunuh, malah akan mendatangkan malapetaka.
Selesai berbicara, nenek pergi membakar kertas sembahyang dan berdoa.
Live Streaming, Hari Ini Hidup Mati Bhayangkara vs Madura United Pukul 20.00 WIB, Bisa Lewat HP
Dari gerakan mulutnya seperti sedang meminta maaf, “kami tidak berani menolak, jika bersedia tinggal maka tinggal lah, jika tidak, maka tidak…”
Anehnya, ular itu seperti mengerti perkataan nenek.
Hasil gambar untuk orang cina berdoa
Dari sudut celah, ular itu keluar dan langsung tidak terlihat lagi!
Dan semenjak saat itu, aku tidak pernah menemukan ular itu di dalam tempat penyimpanan beras lagi.
Nah, apakah ada ditempat mu cerita hewan yang tak boleh dibunuh, share yuk!…
Dikucilkan Keluarga, Pria Ini Terpaksa Makan Tikus, Ular dan Kucing
SRIPOKU.COM, PROBOLINGGO – Seorang warga Probolinggo dikucilkan keluarganya selama lima tahun karena menderita kusta. Sarep (40), warga Desa Menyono, Kurpian, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, itu tinggal di sebuah gubuk di dasar jurang Pegunungan Tengger, Dusun Kalibendo, Desa Menyono.
Dia hanya memiliki beberapa lembar baju dan sarung. Untuk makan, dia “berburu” hewan-hewan di sekitarnya, seperti tikus, kucing, atau ular. Hewan-hewan liar itu dimasak dengan air hujan atau dibakar.
“Saya makan apa adanya. Untuk minum, saya minum air hujan dengan memasang wadah untuk menadah hujan. Untuk mendapatkan hewan-hewan, saya buat jebakan,” ujar Sarep.
Sesekali ada tetangga baik hati yang mengiriminya makanan. Namun, tidak satu pun keluarga yang menjenguknya karena mereka beranggapan kusta adalah penyakit kutukan.
Tiga hewan pengerat yang menjadi penerima kepala, hewan pengerat pendonor, dan pengerat ketiga. (Sergio Canavero/CNS Neuroscience and Therapeutics).
Tiga hewan pengerat yang menjadi penerima kepala, hewan pengerat pendonor, dan pengerat ketiga. (Sergio Canavero/CNS Neuroscience and Therapeutics). (http://sains.kompas.com/)
Sarep sendiri mengaku pasrah sampai maut menjemput. Apalagi kini luka di sekujur tubuhnya semakin parah dan berair.
Dihubungi terpisah, Kepala Desa Menyono Misdor mengatakan, sudah menghubungi Dinas Kesehatan setempat. Misdor menambahkan, Dinas Kesehatan Provinsi Jatim akan membawa Sarep ke RS Kusta di Mojokerto.
Menanggapi kasus tersebut, anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Bambang Agus menyesalkan Pemerintah Desa Menyono yang tidak melaporkan keberadaan Sarep ke dewan ketika dinkes tidak segera bersikap.
“Harusnya pihak aparatur desa melaporkan masalah ini ke dewan, jika memang dinkes tak merespons adanya warga penderita kusta yang ditelantarkan. Nanti dewan akan memanggil dinkes dan mendorong agar segera menolong Sarep,” katanya, Jumat (17/1/2014).
Kata Agus, jika pihak desa dan dinkes bersikap proaktif, kondisi Sarep tidak akan seburuk ini. Toh, kata anggota Banggar ini, dinkes memiliki anggaran untuk anak telantar dan orang jompo.

