Wahai suami kalian tidak bisa mengelak kalau dikatakan durhaka pada anak dan istrimu apabila 2 faktor ini diketahui
Jangan hingga kalian termasuk suami yang durhaka….
Membangun dan menjaga kerukunan rumah tangga terbukti susah. Tidak tidak sedikit para suami yang bisa meperbuatnya. Hingga mereka akhirnya meperbuat faktor yang bisa termasuk sebagai bentuk kedurhakaan.
Tapi tenang bagi kalian para istri, suamimu yang durhaka bisa dilihat dari 2 faktor ini sebagaimana dikutip kompasiana.com
1. Kesalahan Ayah Pada Anaknya
Hampir semua Ayah, mempunyai pemikiran. Bahwa, membesarkan dan mendidik anaknya sebagai investasi masa depan. Bukan sebagai keharusan yang terbukti harus dirinya kerjakan. Sehingga, ketika orang tua tidak sanggup lagi bekerja. Diinginkan, anak bakal menolong orang tuanya.
Pemikiran demikian, jelas salah. Dimana salahnya? Mari kami hitung dengan cara matematis.
Baca Juga : 20 Perbuatan dan Perilaku Suami Durhaka yang Paling Dibenci Allah
Apabila, anggaran makan berserta lauk pauknya sekali makan Rp.15.000,- maka, sehari untuk anggaran makannya 45 ribu. Pakaian plus anggaran cucinya Rp. 5.000,- maka total anggaran seorang anak, 50 ribu/hari. Sebulan 1,5 juta, Satu tahun 18 juta. Apabila di anggapankan, anak bakal mandiri, tanpa anggaran dari orang tua, hingga berumur 24 tahun. Maka, untuk keperluan makan dan pakaian saja 432 juta.
Apabila umur 6 tahun masuk SD, maka untuk anggaran pendidikan, uang pendaftaran 5 juta, anggaran pendidikan 500 ribu/bulan, ongkos setiap pp sekolah-rumah, 20 ribu/hari. Jajan 20 ribu/hari.
Biaya buku dll 500 ribu/bln. Maka, anggaran pendidikan selagi SD-SMA sebesar 348 juta.Apabila anggaran kuliah, hingga beres S1 kurang lebih 200 juta. Maka, total jendral, anggaran seorang anak, hingga menyelesaikan S1 kurang lebih 980 juta.
Apabila anggapan 1 gram emas Rp.500.000.-. Anggaran seorang anak hingga S1, setara dengan 1,96 Kg emas.
Apabila seorang Ayah, menikah pada usia 26 tahun, maka pada usia 50 tahun, sang Ayah baru menghentikan kegiatan investasi. Apabila lama usia seorang Ayah tujuh puluh tahun.
gambar via kompasiana.com
Maka sang Ayah. Mestinya, memetik hasil dari investasi yang dirinya keluarkan setidak sedikit 980 juta di bagi 20, yakni sebesar 49 juta pertahun alias 4 juta perbulan. Sungguh sebuah nominal kualitas yang sangat kecil apabila dibanding investasi yang dirinya tanamkan sebesar 980 juta.
Baca Juga : Kisah Nyata Anak Durhaka: Kaki Dirantai Bumi dan Wajah Menjadi Babi
Kesimpulannya, apabila anak dianggap sebagai investasi. Jelas sang Ayah mengalami kemenyesalan. Belum lagi, apabila sang anak tidak sanggup alias lupa memberbagi kualitas yang mestinya dirinya berbagi pada sang Ayah dengan nominal selayaknya sebesar investasi yang diterimanya.
Tidak sama halnya, apabila saja seorang Ayah beranggapan bahwa membesarkan dan mengasuh anak sebagai keharusan. Maka, sang Ayah bakal bekerja dengan “Nothing to lose”.
Ikhlas dan tidak berharap balas jasa. Itulah kata kuncinya. Ikhlas dan tidak berharap balas jasa. Dampaknya, seorang Ayah bakal mempersiapkan diri untuk anak dan dirinya sendiri.
Artinya, Ayah bakal berusaha mencari nafkah demia anaknya tanpa melupakan persiapan masa depan untuk dirinya sendiri. Sebab, bakal datang masa, ketika anak telah dewasa dan meninggalkan orang tua. Ketika itu, orang tua, tetap berkecukupan dengan cara materi. Sebab, jauh hari sebelumnya telah mempersiapkan diri.
Lalu, bagaimana dengan sejumlah nominal yang telah diberbagi pada sang anak? Bukankah semua itu harus ada perhitungannya? Sebab sifatnya ikhlas dan tidak berharap balas jasa.
Maka, seorang Ayah bakal percaya, bahwa apa-apa yang telah dirinya berbagi pada anaknya, sesungguhnya bukanlah rezeki milik sang Ayah. Melainkan, terbukti rezeki sang anak yang diberbagi Allah melewati perantaraan tangan sang Ayah. Sebagaimana firman Allah;
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
”Dan janganlah kalian membunuh anak-anakmu sebab takut kemiskinan. Kamilah yang bakal memberi rezeki terhadap mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka merupakan sebuahdosa yang besar.” (QS. al-Israa’: 31)
Baca Juga : Tidak jarang Tidak Sadar, Inilah 4 Macam Durhaka yang Kerap Diperbuat oleh Para Istri Pada Suami
2. Kesalahan Suami Pada Istrinya
Tidak sedikit Suami beranggapan, ketika akad nikah telah dilaksanakan, maka posisinya merupakan pemimpin dalam rumah tangga. Ketika itu, Suami hanya berpikir, bagaimana tutorial memenuhi keperluan rumah tangga.
Sehingga, ketika keperluan rumah tangga telah terpenuhi. Maka, bereslah tugasnya. Suami leluasa meperbuat apa saja di luar rumah.
gambar via islamidia.com
Mulai pulang larut malam tanpa argumen yang jelas, tidak mengajar anak-anak dalam proses belajar mereka, tidak menyediakan lumayan waktu untuk anak dan istri. Bahkan, kondisi ekstreemnya, nikah lagi tanpa sepengetahuan istri.
Baca Juga : Istri Durhaka: Saat Suami Kaya Dipuja-puja, Begitu Miskin Diusir
Padahal sesungguhnya, tidak hanya memenuhi keperluan rumah tangga, Suami tetap mempunyai keharusan untuk memperperbuat istri dengan sepenuh apresiasi dan kelembutan.
“Seorang pemimpin dalam rumah tangga, bukan hanya memenuhi keperluan apa yang mereka pimpin. Namun, memastikan bahwa segala proses yang berjalan dalam area yang dipimpin berjalan sesuai dengan kebijakan yang dibangun sang pemimpin, tanpa ada pihak yang merasa di menyesalkan alias ditinggalkan.”
“Seorang Suami harus ingat, ketika mereka melamar seorang wanita. Sesungguhnya, dirinya telah mengambil alih tanggung jawab seorang Ayah dari wanita yang dinikahinya. Artinya, bagaimana sang Ayah berusaha untuk memtersanjungkan anaknya seumur nasib sang Ayah, demikian pula yang harus diperbuat seorang Suami. Bagaimana seorang Ayah berusaha supaya anak wanitanya tidak tersakiti dan tersia-sia dalam kondisi apapun, itu pula yang harus diperbuat oleh seorang Suami pada istrinya.”
Sehingga, ketika seorang Suami bakal menyakiti alias menyia-nyiakan istrinya, seharusnya sang Suami bertanya, apakah faktor demikian, mungkin diperbuat oleh Ayah dari wanita yang dinikahinya itu? Apabila jawabannya tidak mungkin, maka jangan perbuat itu.
Menjamin ketersanjungan seumur nasib terhadap wanita yang dinikahi, bakal melahirkan pola pikir bagaimana menjamin kepastian terpenuhinya keperluan Jasmani dan rohani dari wanita yang dinikahi Suami. Suami hendaknya memastikan ketersanjungn yang dirinya usahakan ketika muda dulu, tetap bisa dirinya saksikan hingga akhir hayatnya.
Pengingkaran terhadap keharusan seorang Ayah pada anaknya, pengingkaran keharusan seorang Suami terhadap istrinya, bakal beres pada pengingkaran keberadaan seorang Ayah dan Suami terhadap anak dan dan istrinya.
Jangan hingga kalian termasuk suami yang durhaka….
Membangun dan menjaga kerukunan rumah tangga terbukti susah. Tidak tidak sedikit para suami yang bisa meperbuatnya. Hingga mereka akhirnya meperbuat faktor yang bisa termasuk sebagai bentuk kedurhakaan.
Tapi tenang bagi kalian para istri, suamimu yang durhaka bisa dilihat dari 2 faktor ini sebagaimana dikutip kompasiana.com
1. Kesalahan Ayah Pada Anaknya
Hampir semua Ayah, mempunyai pemikiran. Bahwa, membesarkan dan mendidik anaknya sebagai investasi masa depan. Bukan sebagai keharusan yang terbukti harus dirinya kerjakan. Sehingga, ketika orang tua tidak sanggup lagi bekerja. Diinginkan, anak bakal menolong orang tuanya.
Pemikiran demikian, jelas salah. Dimana salahnya? Mari kami hitung dengan cara matematis.
Baca Juga : 20 Perbuatan dan Perilaku Suami Durhaka yang Paling Dibenci Allah
Apabila, anggaran makan berserta lauk pauknya sekali makan Rp.15.000,- maka, sehari untuk anggaran makannya 45 ribu. Pakaian plus anggaran cucinya Rp. 5.000,- maka total anggaran seorang anak, 50 ribu/hari. Sebulan 1,5 juta, Satu tahun 18 juta. Apabila di anggapankan, anak bakal mandiri, tanpa anggaran dari orang tua, hingga berumur 24 tahun. Maka, untuk keperluan makan dan pakaian saja 432 juta.
Apabila umur 6 tahun masuk SD, maka untuk anggaran pendidikan, uang pendaftaran 5 juta, anggaran pendidikan 500 ribu/bulan, ongkos setiap pp sekolah-rumah, 20 ribu/hari. Jajan 20 ribu/hari.
Biaya buku dll 500 ribu/bln. Maka, anggaran pendidikan selagi SD-SMA sebesar 348 juta.Apabila anggaran kuliah, hingga beres S1 kurang lebih 200 juta. Maka, total jendral, anggaran seorang anak, hingga menyelesaikan S1 kurang lebih 980 juta.
Apabila anggapan 1 gram emas Rp.500.000.-. Anggaran seorang anak hingga S1, setara dengan 1,96 Kg emas.
Apabila seorang Ayah, menikah pada usia 26 tahun, maka pada usia 50 tahun, sang Ayah baru menghentikan kegiatan investasi. Apabila lama usia seorang Ayah tujuh puluh tahun.
gambar via kompasiana.com
Maka sang Ayah. Mestinya, memetik hasil dari investasi yang dirinya keluarkan setidak sedikit 980 juta di bagi 20, yakni sebesar 49 juta pertahun alias 4 juta perbulan. Sungguh sebuah nominal kualitas yang sangat kecil apabila dibanding investasi yang dirinya tanamkan sebesar 980 juta.
Baca Juga : Kisah Nyata Anak Durhaka: Kaki Dirantai Bumi dan Wajah Menjadi Babi
Kesimpulannya, apabila anak dianggap sebagai investasi. Jelas sang Ayah mengalami kemenyesalan. Belum lagi, apabila sang anak tidak sanggup alias lupa memberbagi kualitas yang mestinya dirinya berbagi pada sang Ayah dengan nominal selayaknya sebesar investasi yang diterimanya.
Tidak sama halnya, apabila saja seorang Ayah beranggapan bahwa membesarkan dan mengasuh anak sebagai keharusan. Maka, sang Ayah bakal bekerja dengan “Nothing to lose”.
Ikhlas dan tidak berharap balas jasa. Itulah kata kuncinya. Ikhlas dan tidak berharap balas jasa. Dampaknya, seorang Ayah bakal mempersiapkan diri untuk anak dan dirinya sendiri.
Artinya, Ayah bakal berusaha mencari nafkah demia anaknya tanpa melupakan persiapan masa depan untuk dirinya sendiri. Sebab, bakal datang masa, ketika anak telah dewasa dan meninggalkan orang tua. Ketika itu, orang tua, tetap berkecukupan dengan cara materi. Sebab, jauh hari sebelumnya telah mempersiapkan diri.
Lalu, bagaimana dengan sejumlah nominal yang telah diberbagi pada sang anak? Bukankah semua itu harus ada perhitungannya? Sebab sifatnya ikhlas dan tidak berharap balas jasa.
Maka, seorang Ayah bakal percaya, bahwa apa-apa yang telah dirinya berbagi pada anaknya, sesungguhnya bukanlah rezeki milik sang Ayah. Melainkan, terbukti rezeki sang anak yang diberbagi Allah melewati perantaraan tangan sang Ayah. Sebagaimana firman Allah;
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
”Dan janganlah kalian membunuh anak-anakmu sebab takut kemiskinan. Kamilah yang bakal memberi rezeki terhadap mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka merupakan sebuahdosa yang besar.” (QS. al-Israa’: 31)
Baca Juga : Tidak jarang Tidak Sadar, Inilah 4 Macam Durhaka yang Kerap Diperbuat oleh Para Istri Pada Suami
2. Kesalahan Suami Pada Istrinya
Tidak sedikit Suami beranggapan, ketika akad nikah telah dilaksanakan, maka posisinya merupakan pemimpin dalam rumah tangga. Ketika itu, Suami hanya berpikir, bagaimana tutorial memenuhi keperluan rumah tangga.
Sehingga, ketika keperluan rumah tangga telah terpenuhi. Maka, bereslah tugasnya. Suami leluasa meperbuat apa saja di luar rumah.
gambar via islamidia.com
Mulai pulang larut malam tanpa argumen yang jelas, tidak mengajar anak-anak dalam proses belajar mereka, tidak menyediakan lumayan waktu untuk anak dan istri. Bahkan, kondisi ekstreemnya, nikah lagi tanpa sepengetahuan istri.
Baca Juga : Istri Durhaka: Saat Suami Kaya Dipuja-puja, Begitu Miskin Diusir
Padahal sesungguhnya, tidak hanya memenuhi keperluan rumah tangga, Suami tetap mempunyai keharusan untuk memperperbuat istri dengan sepenuh apresiasi dan kelembutan.
“Seorang pemimpin dalam rumah tangga, bukan hanya memenuhi keperluan apa yang mereka pimpin. Namun, memastikan bahwa segala proses yang berjalan dalam area yang dipimpin berjalan sesuai dengan kebijakan yang dibangun sang pemimpin, tanpa ada pihak yang merasa di menyesalkan alias ditinggalkan.”
“Seorang Suami harus ingat, ketika mereka melamar seorang wanita. Sesungguhnya, dirinya telah mengambil alih tanggung jawab seorang Ayah dari wanita yang dinikahinya. Artinya, bagaimana sang Ayah berusaha untuk memtersanjungkan anaknya seumur nasib sang Ayah, demikian pula yang harus diperbuat seorang Suami. Bagaimana seorang Ayah berusaha supaya anak wanitanya tidak tersakiti dan tersia-sia dalam kondisi apapun, itu pula yang harus diperbuat oleh seorang Suami pada istrinya.”
Sehingga, ketika seorang Suami bakal menyakiti alias menyia-nyiakan istrinya, seharusnya sang Suami bertanya, apakah faktor demikian, mungkin diperbuat oleh Ayah dari wanita yang dinikahinya itu? Apabila jawabannya tidak mungkin, maka jangan perbuat itu.
Menjamin ketersanjungan seumur nasib terhadap wanita yang dinikahi, bakal melahirkan pola pikir bagaimana menjamin kepastian terpenuhinya keperluan Jasmani dan rohani dari wanita yang dinikahi Suami. Suami hendaknya memastikan ketersanjungn yang dirinya usahakan ketika muda dulu, tetap bisa dirinya saksikan hingga akhir hayatnya.
Pengingkaran terhadap keharusan seorang Ayah pada anaknya, pengingkaran keharusan seorang Suami terhadap istrinya, bakal beres pada pengingkaran keberadaan seorang Ayah dan Suami terhadap anak dan dan istrinya.

